Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Shirazi dihadapan jama'ah shalat Haram Muthahar Sayyidah Maksumah di Qom Republik Islam Iran ahad (28/7) dalam lanjutan pembahasan tafsir Al-Qur'an mengatakan bahwa hanya dalam mazhab Syiah yang memiliki keyakinan akan kemaksuman sepenuhnya bagi Anbiyah dan Aimmah as, sejak mereka dilahirkan sampai akhir hidupnya. Beliau berkata, "Sebagian bertanya, bahwa kemaksuman yang Anbiyah dan Aimmah miliki menunjukkan meraka tidak memiliki keinginan dan kemampuan untuk melakukan dosa, sehingga hal tersebut bukanlah merupakan keistimewaan."
"Maka kami jawab, jika sekiranya ada seseorang yang membawa makanan kesekumpulan orang, yang makanan tersebut telah dibubuhi racun, dan dikumpulan orang tersebut ada seorang tabib, yang dengan ilmu dan pengetahuannya ia mengetahui makanan tersebut mengandung racun, jadi jika yang lain menyantap dengan tenang makanan tersebut sementara tabib itu tidak, apakah bukan keistimewaan bagi sang tabib hanya dia seorang yang tidak menyantap makanan karena pengetahuan yang dia miliki?." Lanjutnya.
Ulama ahli tafsir tersebut menambahkan, "Para maksumin dengan ilmu ma'rifat yang mereka miliki, mereka mengetahui hakekat batin sebuah perbuatan dosa. Jadi meskipun mereka memiliki kemampuan untuk berbuat dosa namun dengan pengetahuannya itu mereka tidak melakukannya. Dan pemilikan ma'rifat tersebut adalah kebanggaan dan keistimewaan bagi mereka."
Ayatullah Makarim Shirazi melanjutkan, "Diriwayatkan bahwa seorang arif ketika dipersilahkan untuk duduk diatas permadani, ia memberi penolakan. Ia mengatakan tidak mungkin duduk diatas permadani yang dilihatnya sedang dilahap api. Yang hadir mengingkari apa yang dikatakan arif tersebut, bahwa permadani tersebut tidak sedang terbakar. Maka arif pun menjelaskan, kalau kalian tidak melihat permadani tersebut sedang terbakar sementara saya melihatnya demikian, berarti permadani tersebut bukan diperoleh dari usaha yang halal."
Ulama pengajar Hauzah Ilmiah Qom Iran tersebut dengan menukil surah an Nisa ayat 10, إِنَّ الَّذِینَ یأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْیتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا یأْكُلُونَ فِی بُطُونِهِمْ نَارًا artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." Menyatakan, "Barangsiapa yang memakan barang anak yatim secara zalim pada hakikatnya ia sedang memakan api dan memasukkannya ke dalam perutnya. Dan bagi siapa yang paham dan menghayati ayat ini, bahwa memakan barang anak yatim secara zalim, sama halnya memakan api, maka dia tidak akan mau melakukan perbuatan tersebut."
"Demikianlah juga ma'rifat yang dimiliki Imam Ali as. Dimasa pemerintahannya sebagai khalifah beliau mampu bertindak adil dalam membagikan harta baitul mal. Tidak sedikipun beliau tergoda dan terpukau dengan kekayaan dan kegemerlapan yang diperoleh dengan melakukan penyelewengan dan korupsi, sebab beliau mengetahui dengan pasti, bahwa tindakan tersebut sama halnya memasukkan api ke dalam perut." Tambahnya lagi.